28 April 2009

TELAGA HATI

2 komentar

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dgn seksama, lalu Ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan;

"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya ", ujar pak tua. "Pahit, pahit sekali ", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,

"Bagaimana rasanya ?"

"Segar", sahut si pemuda.

"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua

"Tidak, " sahut pemuda itu

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

"Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yg kamu dapat lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu".

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:

"Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian. Karena Hidup adalah sebuah pilihan, mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal kita menjelang? Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik"

***

Berbahaya, jika kita merasa tahu segalanya. (Jack Kuehler, mantan vice chairman IBM)


Seseorang yang mengendalikan orang lain mungkin saja sepertinya berkuasa, tetapi seseorang yang mengendalikan dirinya sendiri jelas lebih berkuasa. (Lao Tze)

Baca Selanjutnya...

Fakta Flu Burung

0 komentar

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health
Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS)..
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam
mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari
negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di

negara berkembang, termasuk Indonesia .

Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan
Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama

dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara
mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung..


"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan
menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di
Jakarta , Kamis (21/2).

Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan,

Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari
penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata
biologi.

Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari

petinggi WHO.

"Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul
apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga
kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat

Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing
1.000eksemplar untuk cetakan bahasa
Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.


"Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak
cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan
kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan

penerbitan besar," katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950,
mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.

"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua

bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya
dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang
saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar

menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyonoyang memintanya menarik buku dari peredaran.

"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500

buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa
Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku
dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa

senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182
halaman itu.

Mengubah Kebijakan

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.

Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan

WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai
selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di
Indonesia pada 2005.

Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak

yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih
berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman

virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan
lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu

burung 2005 silam.

Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru
diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan


diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong
memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium

litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO


CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di
Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan
dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian

dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta,
pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju,
negara kaya, yang tak terkena flu burung.


Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke
seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza

Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110
negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.


Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi
vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para
ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.


Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico ,
AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya
tak diketahui.

Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.


Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu,
untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA

virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.


Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data
itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos ,
memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi

transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC
agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.


Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil,

transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus
yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik

dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia.. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap
menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan
Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di

akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui
dan GISN dihapuskan.
sumber:
Ini Bukunya Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO

Baca Selanjutnya...

Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

0 komentar

Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

By: Hyphatia Cneajna

Membaca buku setebal 192 halaman ini sangat menarik. Sampul bukunya berwarna coklat yang memudar menandakan aroma gothic yang begitu kental. Judul besarnya dengan embos warna merah menyala memang menarik mata untuk mengambilnya. Apalagi setelah membaca judulnya, Dracula. Memang awalnya akan mengira bahwa buku ini buku misteri seperti halnya buku tentang Dracula lainnya. Akan tetapi, judul kecil yang berbunyi "Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib", tentu segera membuat yang memegang buku ini ingin segara untuk membaca keterangan di sampul belakang. Setelah membaca kata demi kata di sampul belakang maka akan segera mengetahui bahwa buku ini berbeda dengan buku sejenis lainnya, semisal buku Dracula karya Bram Stoker.


Buku karya Hyphatia Cneajna ini, nama yang tentunya agak asing bagi telinga orang Indonesia, yang lengkapnya berjudul Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib, bukan karya fiksi, tapi buku sejarah. Mungkin saja karena selama ini kisah tentang Dracula sudah lekat dengan vampir yang haus darah, maka penerbit buku ini perlu menambahkan kalimat "Kisah Kebiadaban Count Dracula yang disembunyikan Selama 500 Tahun". Memang buku ini buku sejarah yang memaparkan riwayat Vlad Tepes atau kemudian dikenal dengan nama Dracula secara mendetail.

Bab I, yang merupakan pendahuluan, memaparkan tentang latar belakang Perang Salib. Perang yang terjadi hampir selama 5 abad ini telah banyak memakan korban, baik dari pihak Kristen maupun Islam. Dalam babakan terakhir perang tersebut, kekuatan yang terlibat dalam pertempuran semakin mengerucut, yaitu Kerajaan Honggaria—sebagai wakil Kristen—melawan Kerajaan Turki Ottoman/Usmaniah— sebagai wakil Islam. Dalam situasi inilah Dracula dilahirkan.
Riwayat hidup Dracula dibahas secara mendalam dalam Bab II. Nenek moyang Dracula, Randu Negru, merupakan pendiri kerajaan Wallachia, sebuah kerajaan yang dibatasi oleh Sungai Danube dan Pegunungan Carphatia. Kalau dilihat dalam peta dunia saat ini, Wallachia menjadi bagian dari negara Rumania. Randu Negru kemudian beranak pinak di wilayah tersebut. Salah satu keturunannya adalah Basarab/Vlad Dracul—"Dracul" berarti "naga"— yang merupakan ayah Dracula. Dracula merupakan anak kedua dari Vlad Dracul. Dracula mempunyai nama asli Vlad Tepes. Nama Dracula sendiri berasal dari bahasa Rumania, Draculea. Akhiran "ea" dalam bahasa Rumania berarti "anak dari", jadi Draculea berarti anak dari Dracul.

Sebagai anak yang sering ditinggal ayahnya dalam keberbagai peperangan membuat Dracula tumbuh menjadi pribadi yang tidak bahagia. Ketidakbahagiaan ini semakin bertambah ketika pada umur 11-12 tahun ia harus menjadi tawanan Kerajaan Turki Ottoman. Walaupun di Turki ia diperlakukan dengan baik namun Dracula merasa bahwa dirinya telah dicampakkan dari masa kecil, kampung halaman, ibu serta keluarganya. Dari sinilah rasa dendam Dracula terhadap Kerajaan Turki Ottoman bermula. Hampir selama 5 tahun Dracula berada di Turki. Ketika usinya beranjak 17 tahun ia dikirim oleh Kerajaan Turki Ottoman untuk mengisi kekosongan tahta Wallachia setelah kematian kakaknya. Tahta Wallachia pun akhirnya bisa ia duduki. Dan, sejak berkuasa inilah kekejaman Dracula mulai tampak. Selama masa pemerintahannya yang berlangsung hanya 6 tahun ia telah membantai kurang lebih 500.000 penduduk Wallachia. Tentu saja jumlah korban tersebut tidak bisa dikatakan kecil dalam konteks abad pertengahan.
Sebagian besar korban pembantaian Dracula dibunuh dengan cara yang keji. Sebelum dibunuh mereka disiksa terlebih dahulu. Macam-macam penyiksaan Dracula tersebut dibahas dalam Bab III buku ini. Metode penyiksaan yang digunakan Dracula untuk menyiksa korban-korbannya antara lain penyulaan, merebus korban hidup-hidup, memaku kepala korban, menjerat leher korban, merusak organ vital perempuan, dan beberapa metode penyiksaan lain yang tak kalah kejam. Di antara metode penyiksaan tersebut penyulaan merupakan yang paling terkenal. Penyulaan merupakan penyiksaan dengan cara memasukkan kayu—sebesar lengan tangan orang dewasa yang telah dilancipkan ujungnya—ke dalam anus. Setelah sula masuk kemudian tubuh korban dipancangkan sehingga kayu sula terus masuk menembus tubuh korban hingga tembus ke bagian leher, punggung, atau kepala. Biasanya penyiksaan semacam ini dilakukan oleh Dracula secara massal, sehingga sekali melakukan "upacara" penyulaan jumlah korbannya bisa mencapai 2.000 orang.

Di antara korban-korban Dracula sebagian besar adalah umat Islam. Siapa saja umat Islam yang menjadi korban Dracula dijelaskan dalam Bab IV. Hyphatia memperkirakan jumlah korbannya mencapai 300.000 orang. Mereka ini sebagian besar merupakan pendukung Kerajaan Turki Ottoman yang berada di wilayah Wallachia. Sebagian besar korban tersebut dibunuh dengan cara disula, sebagian yang lain dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup, diracuni dan disiksa dengan cara yang lain. Masa inilah dikenal di Wallachia sebagai masa teror yang paling mengerikan.
Masa teror terhadap umat Islam dan penduduk Wallachia baru berakhir ketika Dracula terbunuh. Tentang di mana Dracula terbunuh dan kuburannya dipaparkan di Bab V. Dalam bab ini dibedah segala mitos yang melingkupi Dracula, termasuk kuburan Dracula yang setelah digali ternyata tak ada jasadnya lagi. Pun, dibahas tentang kematian- kematian misterius yang menimpa penduduk Wallachia dan sekitarnya setelah kematian Dracula, yang konon kabarnya kematian tersebut ada hubungannya dengan Dracula.

Segala bentuk kekejaman Dracula yang dipaparkan dalam bab demi bab buku ini masih tertutupi hingga kini. Sampai saat ini Dracula lebih dikenal sebagai vampir yang haus darah daripada pembunuh berdarah dingin. Hal ini terjadi karena Barat memang berusaha mengaburkan kisah hidup Dracula yang sesungguhnya. Mengapa Barat berusaha keras menyembunyikan jadi diri Dracula? Apa hubungan Dracula dengan bawang putih dan salib dalam konteks penjajahan sejarah? Mengapa pembunuh Dracula yang sebenarnya tidak banyak ditampilkan? Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut diuraikan dengan tuntas oleh Hyphatia di Bab VI karyanya.

Buku karya Hyphatia Cneajna ini menarik karena dua hal. Pertama, buku ini menampilkan fakta-fakta yang belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Pada saat membacanya segala fakta-fakta yang ada dalam buku ini ibarat tamparan yang membuat kita sadar bahwa selama ini sosok Dracula merupakan sosok nyata yang kemudian lebih dikenal sebagai sosok fiski. Kedua, buku ini mengajak kita untuk selalu kritis terhadap sejarah. Sebuah sejarah yang seakan-akan sudah menjadi kebenaran ternyata seringkali berisi kebohongan- kebohongan. Dengan dua kelebihan ini—dan tentunya dengan kekurangan yang ada di dalamnya—buku ini layak dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat. [*]

Judul : Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

Penulis : Hyphatia Cneajna

Penerbit : Navila Idea, Yogyakarta

Tebal : xii + 192 halaman

Tahun Terbit : Agustus 2007

Harga : Rp. 29.500,-

****** *****************

Dracula: Fakta yang Menjadi Fiksi

(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku "Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang" di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM)

Oleh: Ragil Nugroho

Sejarah semestinya menjadi cermin paling jernih bagi umat manusia untuk menatap masa depan. Tetapi bagaimana kalau sejarah telah dibelokan oleh kelompok pemenang?

Sejarah Superhero

Filsuf dan sekaligus aktivis gerakan kiri Italia, Antonio Gramsci, dalam teorinya tentang hegemoni (peracunan kesadaran), mengungkapkan bahwa seringkali sejarah ditentukan oleh kekuasaan yang menang. Sejarah semacam ini akan memuja kelas yang berkuasa dan sekaligus mencemooh kelas yang kalah; ia hanya akan berbicara tentang para raja bukan tentang para kawula. Akibatnya, kelas yang subaltern (dikalahkan) harus berada di luar gelanggang sejarah, yang artinya tidak mempunyai peran apa-apa dalam sejarah. Sehingga tepat kalau sejarah jenis ini disebut sejarah "Superhero".

Lebih lanjut Gramsci dalam bukunya yang cukup fenomenal, Notes on Italian History (1934), menuturkan bahwa sebetulnya kelas subaltern—mereka ini terdiri dari petani, buruh, kaum miskin perkotaan, gelandangan dan kelompok-kelompok lain yang termarjinalkan— mempunyai sejarah sendiri yang tidak kalah kompleksnya dengan sejarah kelas yang berkuasa. Akan tetapi, akibat posisi yang tertindas membuat mereka tak bisa menuliskan sejarah mereka sendiri dan harus menerima "sejarah resmi" yang dibuat oleh kelas yang berkuasa.

Teori yang dikemukan Gramsci di muka sangat tepat untuk melihat penulisan sejarah yang dominan dewasa ini. Apa yang dikatakan oleh Gramci itu tampak demikian kasat mata. Di antara sekian banyak negara, Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang gemar memproduksi sejarah superhero. Agar gampang melihat fakta-faktanya tengok saja film-film produksi mereka seperti Superman, Batman, Rambo dan lain sebagainya. Dalam kasus film Rambo misalnya, terlihat dengan jelas bagaimana Amerika Serikat ingin selalu menjadi bangsa pemenang walaupun mereka mengalami kekalahan telak di Vietnam. Mereka ingin tetap menjadi superhero walaupun sebetulnya telah terpuruk. Selain yang dilakukan oleh Amerika Serikat, sejarah superhero bisa dilihat dari sejarah para diktator—semisal Stalin, Hilter, Mao. Para diktator tersebut berusaha mengagung-agungkan sejarahnya sendiri agar diri mereka layak disebut superhero. Apabila ada sejarah yang berlawan dengan yang mereka inginkan, maka akan dibungkam untuk selama-lamanya.

Dalam khazanah penulisan sejarah di Indonesia sejarah superhero juga akan banyak kita dapatkan. Para penguasa berusaha agar nama mereka digoreskan dengan tinta emas, sebagai pahlawan, sementara musuh-musuh mereka harus dikutuk menjadi manusia jahat atau menjadi hewan. Hal ini terlihat jelas dalam sejarah para raja pada masa feodal. Prabu Airlangga misalnya, menjadikan Calon Arang—musuh politiknya—sebagai tukang sihir yang suka mandi darah. Panembahan Senopati juga melakukan hal serupa, dengan tipu daya khas seorang Machialevis, menuduh Ki Ageng Mangir sebagai pemberontak yang layak dibunuh. Atau, bagaimana Sangkuriang dikisahkan dalam wujud manusia yang berubah menjadi seekor anjing akibat penentangannya terhadap kekuasaan yang dominan saat itu.

Melangkah pada zaman yang lebih modern, sejarah superhero ini terus berlanjut. Hal ini sangat kasat mata ketika Soeharto berkuasa. Ia buat sejarahnya sendiri sebagai pahlawan dalam Serangan Umum 1 Maret dan sebagai penumpas gerombolan liar PKI yang katanya akan merongrong Pancasila. Sebagaimana para leluhurnya yang gila akan nama kebesaran—raja-raja Mataram selalu bergelar Hamengkubuwono (pemangku dunia) dan Pakubuwono (paku dunia)—Soeharto pun mengangkat dirinya sebagai "Bapak Pembangunan". Sejarah-sejarah seperti inilah yang menjadi "sejarah resmi" di Indonesia hingga saat ini. Bisa dikatakan bahwa manusia Indonesia sejak dalam kandungan sampai akan menjemput ajal dicecoki oleh sejarah superhero.

Dalam bandul sejarah yang condong pada sejarah superhero itulah bayang- bayang mitos begitu kuatnya sehingga menelan fakta. Ia telah menelusup pada pola pikir masyarakat. Mitos-mitos baru pun terus-menerus direproduksi. Tak sadar bahwa mitos-mitos tersebut telah melenakan dan semakin melapukkan sejarah itu sendiri.

Penjajahan Sejarah

Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Orientalisme, Erdwad W Said, memaparkan tentang dominasi Barat dalam menciptakan pandangan tunggal. Ia memaparkan bahwa Barat membuat penilaian tentang Timur. Dalam pandangan Barat, Timur merupakan sekumpulan "bangsa irasional, lemah-lembut dan eksotis". Sedangkan dalam memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri mereka menyebut sebagai "bangsa yang rasional, penuh perhitungan dan dinamis". Dengan penilaian seperti itu bangsa Barat ingin memberikan citra bahwa mereka berbeda dengan bangsa lain yang ada di Timur.

Tak terasa, penilaian yang dilakukan oleh Barat tersebut termakan oleh bangsa-bangsa Timur. Mereka menjadi alpa menilai diri mereka sendiri dan menyerahkan semuanya terhadap Barat. Mereka memandang diri mereka lebih rendah dari Barat. Mereka merasa tak layak hidup sejajar dengan Barat. Dari proses seperti inilah penjajahan sejarah bermula, dan kemudian berujung pada penjajahan sebuah bangsa.

Memang masih jarang yang mengupas penjajahan sejarah ini. Para aktivis maupun intelektual selama ini gaduh berdebat tentang penjajahan ekonomi dan politik, masih jarang memperdebatkan penjajahan sejarah ini. Padahal penjajahan sejarah tak kalah berbahaya dari bentuk-bentuk penjajahan yang lainnya. Apabila hal ini tak dilawan maka apa yang pernah dikatakan Milan Kundera, "maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau, akan benar-benar mewujud."

Sebuah bangsa yang telah terjajah sejarahnya akan tumbuh menjadi bangsa yang rapuh. Mereka akan kehilangan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Mereka akan lupa tentang jati dirinya. Maka ketika suatu bangsa sudah kehilangan kepercayaan diri dan buta akan dirinya sendiri, ia akan mudah terombang-ambing. Akibatnya, sebagai pegangan mereka akan berpegangan pada bangsa yang menurut mereka lebih "kuat" dan "maju". Dan, secara tak sadar mereka telah jatuh pada cengkraman negara lain.

Penjajahan sejarah ini sangat efektif untuk melakukan penjajahan terhadap sebuah bangsa secara keseluruhan. Sebagai contoh adalah yang akhir-akhir ini digembor-gemborkan oleh AS dan sekutunya tentang terorisme. Mereka menciptakan sejarah baru bahwa Afganistan dan Irak merupakan "sarang teroris". Dengan sejarah rekaan tersebut telah melapangkan jalan bagi mereka untuk melakukan invasi/penjajahan. Alasan mereka yang sebenarnya, menguasi sumber minyak di Timur Tengah, bisa mereka tutup-tutupi dengan dalih mengejar gembong teroris.

Arnold Toynbee dalam karyanya Mankind and Mother Earth A Narrative History of Word (1975), memberikan pemaparan bahwa penjajahan sejarah telah membuat sejarah hanya berisikan masa lalu yang mengarah pada kuasa pengaruh Barat. Akibatnya, peristiwa-peristiwa masa lalu lainnya dianggap tidak relevan dan karena oleh itu bisa diabaikan. Lebih lanjut Toynbee memberikan uraian bahwa akibat westernisasi sejarah tersebut, negara-negara yang terbaratkan menjadi subordinat dan terpinggirkan.



Membongkar Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Horror of Dracula (1958), Nosferatu (1922)—yang dibuat ulang pada tahun 1979—dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul "Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib" karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman (sebagai wakil Islam) dan Kerajaan Honggaria, (sebagai wakil Kristen) semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel, benteng Kristen, ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas, Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam perang inilah Dracula banyak melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara—yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab—yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

"Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami."

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

"Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal."

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan- pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat—khususnya umat Islam sendiri—yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, "bawang putih" dan "salib". Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka—pahlawan dari pihak Islam—dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.





Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Dialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danau Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku ini juga memuat hal-hal yang selama ini tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain: politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini—walaupun masih merupakan langkah awal—bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita. [*]

Sumber Dikutip dari Millis mail [ISLAM_IRC]

Baca Selanjutnya...

27 April 2009

Daftar Caleg Yang Stressss...!!

1 komentar


Daftar para caleg yang stress gara-gara gagal tak terpilih pada pemilu legislatif (pileg) April 2009 yang lalu dan apa yang dia kerjakan gara-gara kegagalannya tersebut. Karena korban-korban caleg stress terus bertambah, maka daftar berikut akan terus diupdate setiap ada perkembangan baru. Tujuan saya adalah untuk diambil pelajaran bagi siapapun yang dapat mengambil hikmahnya. Daftar nama dan info diambil dari berbagai sumber media cetak maupun online.

1. Caleg SK di Dapil I Kabupaten Sumbawa menarik kembali bantuan sebuah mesin genset yang di sumbangkannya ke mesjid. Selain itu, ia juga menarik bantuan dana sebesar Rp 1 juta yang disumbangkannya ke dua mushallah.

2.Caleg AH di Dapil I Kabupaten Sumbawa, sebelumnya ia menyumbang 100 buah kursi plastik dan 25 zak semen ke sebuah MTS di Kecamatan Labangka, Namun karena kecewa tidak meraih suara yang diharapkan, AH menarik kembali kursi dan semen tersebut.

3.Oknum caleg di Kota Sumbawa Besar yang tidak disebut nama dan parpolnya, meminta kembali uang sebesar Rp 20 ribu per orang yang diberikan dengan target 50 hingga 60 suara. Namun di pemilu, perolehan yang ada hanya ada saksi dan keluarga tim sukses.

4.Caleg nomor urut 9 dari Partai Golkar dari Kota Bogor,Yuniar, melalui tim suksesnya berinisial SB, menarik kembali ratusan buku tabungan masing-masing senilai Rp50.000 bertuliskan Karya Nyata Sejahtera yang dibagikan saat kampanye di Kampung Muara, RW 11/14, Kelurahan Pasirjaya,Kecamatan Bogor Barat.Namun saat hasil suara dihitung, dari jumlah DPT yang jumlahnya sekitar 900 suara,nama Yuniar hanya memperoleh di bawah 10 suara di RW 11 dan 14.

5.Caleg Partai Golkar dari Daerah Pemilihan I Dumai Timur Aswin memalui tim suksesnya mencabut kembali lima tiang listrik yang telah dipasang untuk menyalurkan listrik kewarga setempat.

6.Caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Banjar, Jawa Barat, Srihayati, 23, ditemukan tewas gantung diri sekitar pukul 07.30 WIB Selasa (14/4).Ibu muda yang mencalonkan diri untuk daerah pemilihan (dapil) I Kota Banjar dengan nomor urut 8 itu ditemukan tewas di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal RT01/01, Desa Bangunjaya,Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.

7.Seorang calon legislatif (caleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Pahala Sianipar ditemukan tewas di kediamannya, Senin (19/04) malam. Ia tewas bunuh diri akibat menenggak obat pembasmi serangga di dalam kamarnya. Di kediamannya Jalan Pintu Air, Kecamatan Medan Kota.

8.Tim Sukses (TS) Caleg pun bisa stres bahkan mengakhiri hidupnya. Itu dibuktikan Muhammad Iqbal (28), TS seorang Caleg yang kalah. Lelaki yang menetap di Jalan Eka Surya, Gang Pribadi, Kelurahan Gedung Johor, Medan Johor ini nekat gantung diri di kediamannya, Jumat (10/4). Iqbal adalah TS seorang Caleg untuk DPRD Medan. Sejak dua bulan lalu dia aktif menjadi TS Caleg sebuah Parpol. Karena kesibukan sebelum dan saat kampanye. Lelaki dengan pekerjaan serabutan ini dikabarkan sering tak pulang ke rumah untuk ngurus kemenangan Caleg jagoannya. Karena itu, dia acap bertengkar dengan istrinya.

9.Lazuardi, seorang caleg DPRD Kota Pontianak, Kalimantan Barat, meninggal Senin (13/4) malam lalu. Ia meninggal beberapa jam setelah mengikuti penghitungan suara pemilu. Diduga caleg dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ini meninggal karena terlalu lelah dan stres mengikuti rangkaian proses pemilu. Ditambah perolehan suara tak cukup untuk menjadikannya legislator.

10.Sri Sumini, caleg dari Partai Demokrat di Solo, Jawa Tengah, meninggal akibat serangan jantung dan lever pada hari Minggu (12/4). Menurut keluarga, sejak masa kampanye hingga usai pencontrengan sang caleg lebih pendiam dan terkesan menyimpan beban pikiran.

11.Di Cirebon, sebanyak 15 orang caleg mengalami depresi dan memilih melakukan pengobatan spiritual untuk menyembuhkan depresi kepada Ustaz Ujang Bustomi di Desa Sinarancang, Mundu, Cirebon.

12.Seorang calon legislator daerah pemilihan Tangerang, di perumahan elit Alam Sutera Kunciran, stres dan marah-marah karena kalah dalam pemilu legislatif 9 April lalu.Sekitar pukul 17.00 WIB (9/4) saat penghitungan suara dilakukan, seorang pria (40) yang merupakan caleg dari partai tertentu, terlihat frustasi saat mengatahui kalah dalam perolehan suara. Dia merangkak di pinggir jalan dengan membawa-bawa cangkir sambil meminta-minta uang kepada orang yang berlalu lalang, katanya kembalikan uang saya, kata caleg itu.

13.Salah seorang caleg Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) dari Bulukumba; Andi Langade Karaeng Mappangille Minggu (12/4) bersama tim suksesnya nekat melakukan penutupan jalan sepanjang 3 km. Tindakan tersebut diduga akibat perolehan suaranya yang tidak mencukupi menjadi caleg terpilih.

14.Di Ternate, Maluku Utara, seorang caleg berinisial HT meminta kembali televisi yang sudah disumbangkan ke warga. Ini dilakukan karena perolehan suara sang caleg sangat rendah. Kejadian ini terjadi di RT 02 Kelurahan Falawaja II, Kota Ternate Selatan.

15.Seorang caleg di Cirebon, Jawa Barat, kini sering melamun dan mengurung diri. Nasib ini menimpa Iwan Setiawan, caleg Partai Patriot asal Kabupaten Kuningan. Apa yang dialami Iwan ini bisa jadi hanya satu dari banyak kasus yang bakal terjadi. Setelah mengetahui hasil penghitungan suara tidak sesuai harapan, pria berusia 29 tahun ini mendadak menjadi pendiam dan sering mengurung diri di kamar. Keluarganya menduga, perilaku Iwan Setiawan terjadi karena kekalahannya dalam pemilu 9 April lalu. Iwan Setiawan memang telah menghabiskan uang yang banyak untuk kampanye. Setidaknya Rp 300 juta ludes dibuyurkan.

16.Ni Putu Lilik Heliawati (45), caleg nomor tiga Partai Hanura untuk DPRD Buleleng, meninggal dunia secara mendadak di rumahnya Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng.Musibah terjadi Kamis (9/4) malam sekitar pukul 23.30 Wita itu. Heliawati diduga meninggal akibat serangan jantung setelah menerima telepon dari tim suksesnya bahwa perolehan suara yang bersangkutan tidak memenuhi harapan.

17.Caleg nomor urut 15 Daerah Pemilihan (Dapil) berinisial S Sirimau untuk DPRD Kota Ambon, hendak menarik kembali karpet yang telah disumbangkan kepada ibu-ibu pengajian setempat.

18.Caleg DPRD Kulon Progo menarik kembali sejumlah hadiah dan sumbangan yang pernah ia berikan kepada warga Desa Karangsari, Pengasih, Kulon Progo. Caleg yang menarik kembali sumbangan kampanyenya itu, S, caleg perempuan.Saat masa kampanye, S cukup sering memberikan sumbangan dan hadiah kepada warga. Di Dusun Kamal, Karangsari, misalnya, ia memberikan 14 zak semen untuk pembuatan jalan konblok. Menurut warga, S juga memberikan bantuan alat musik drumband dan uang tunai Rp 2,5 juta.

19.Di Kalimantan Tengah muncul dua caleg dan tiga simpatisan partai yang mengalami tekanan psikis. Dua dari lima orang itu mengalami gangguan jiwa ringan atau stres, seorang gangguan jiwa sedang atau depresi. Dua lainnya mengalami gangguan jiwa berat: terus mengoceh, murung, serta tak mau makan serta Minum. Kelimanya kini dirawat di Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat Kalawa Atei, Kalteng.

20.Dahlan, caleg DPRD Bulukumba dari Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Caleg nomor urut tiga yang bertarung di Dapil I Kecamatan Herlang, Bonto Tiro dan Kajang ini, melakukan aksi penyegelan gedung SDN 225 Kajang-Kajang, Desa Borong, Kecamatan Herlang.Dahlan mulai menyegel sekolah ini sejak Sabtu (11/4) malam lalu dengan cara mengikat pintu gerbang sekolah menggunakan tali. Ia menyatakan, lahan yang ditempati gedung sekolah itu adalah miliknya.

21.Caleg EP dari partai RepublikaN menggusur 42 KK dari lahan tempat mereka tinggal di kawasan Daeo, desa Gura, kecamatan Tobelo, kabupaten Halmahera Utara (Halut). Tergusurnya warga itu dikarenakan ada pengusiran dari pemilik lahan yang beralasan bahwa tempat tinggal warga “menumpang” itu akan dibangun tempat usaha. EP yang merupakan caleg dari partai RepublikaN tak memperoleh satupun suara dari TPS para warga berdomisili, yang menjadi pemicu dari penggusuran tersebut.

22.Tim sukses salah satu caleg dari partai Golkar di Dapil I Ternate (Ternate Selatan-Moti) yang menarik televisi yang diberikan di pangkalan ojek Falajawa II, Kelurahan Kayu Merah, termasuk merusak pangkalan tersebut hanya beberapa jam setelah penghitungan suara berakhir.

23.Tim sukses Caleg berinisial MG di Kelurahan Jati Ternate melakukanpenarikan televisi dan bantuan semen. Hal ini dilakukan karena suara yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan.[1]

Sumber : Suaramedia.com & http://afatih.wordpress.com/

Baca Selanjutnya...